Senin, 12 Desember 2011

Kelas Akselerasi, Budaya Instan Pendidikan Kita

        KETERTINGGALAN sumber daya manusia dan dunia pendidikan yang menjadi sorotan dijawab dengan berbagai jurus. Salah satunya adalah percepatan belajar melalui kelas khusus akselerasi dengan awal uji cobanya di sebelas sekolah perintis di Jakarta. Bahkan, belakangan muncul puluhan kelas serupa di mana-mana.

      MURID dengan hasil tes intelektual di atas 125 dan lolos rangkaian seleksi "dikarantina" dalam sebuah kelas khusus. Proses belajar dipercepat dan materi dipadatkan, lebih cepat satu tahun dari semestinya.



      Tahun ajaran baru ini, misalnya, Ny Ning dilanda kebingungan. Ketika remaja lain bersuka ria diterima di sekolah menengah atas (SMA), putrinya, Tasya, justru berkali-kali menangis ketakutan. Terpaksalah ibu muda itu bersama suaminya bekerja keras membujuk putri kesayangan mereka agar tetap bersemangat masuk sekolah barunya di bilangan Jakarta Timur. Bagi Tasya yang berusia baru dua belas tahun-umur umumnya anak lulus sekolah dasar (SD)-jenjang sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) itu bisa jadi seperti rimba menakutkan.

     "Urusan memanggil teman-temannya nanti hanya dengan nama atau pakai embel-embel embak dan mas saja dia sudah bingung. Belum lagi kepikiran nanti ngobrol- nya nyambung atau enggak," kata ibu muda yang ditemui saat menunggui anaknya di sebuah sekolah swasta.

     Intelegensi Tasya memang di atas 125. Kelebihan itu pula yang mengantarkan gadis kecil itu menjadi peserta kelas akselerasi. SD yang seharusnya dia tempuh enam tahun, dihemat hanya lima tahun. Sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) cukup dijalaninya dua tahun. Bahkan, Tasya masuk SD dalam usia muda, lima setengah tahun.

     Ny Ning mengatakan, sulit bagi Taysa menemukan teman yang benar-benar sesuai. Sekarang putrinya itu tampak tidak berminat melanjutkan kembali program kelas akselerasi di sekolah barunya. Ny Ning juga tidak berniat memaksakan.

     PENGALAMAN di kelas akselerasi memang belum tentu menyenangkan. Terlebih lagi jika perlakuan sekolah terhadap program akselerasi berbeda dari kelas umumnya.

     Mandy, yang didorong orangtuanya ikut program kelas akselerasi di SMA Labschool Jakarta, misalnya, belajar dalam sebuah ruangan di salah satu pojok sekolah bersama 19-an murid lainnya. Koridornya terpisah dari kelas lain. Ruang yang berdekatan dengan kelas tersebut hanya perpustakaan dan mushala. Papan bertulisan "Kelas Aksel" menjadi petunjuk yang membedakan dari ruang belajar lainnya. Dengan kondisi itu, interaksi mereka dengan rekan di kelas lain menjadi lebih terbatas.

     Mutiara, meskipun dengan mudah mengikuti pelajaran di kelas akselerasi SMA Negeri 8 Jakarta, juga mengaku tidak terlalu menikmati hal itu. Senin hingga Jumat dia belajar sekitar pukul tujuh pagi hingga pukul empat sore. Pada hari Sabtu, ketika pelajar lain libur dari kegiatan akademis dan menjalani aktivitas ekstrakurikuler, Mutiara dan 19 teman sekelasnya justru disibukkan dengan berbagai praktikum.

     Dia sebenarnya enggan mengikuti akselerasi, apalagi pernah mencobanya saat di SLTP. Namun, kabar bahwa kelas akselerasi menjadi incaran berbagai perguruan tinggi favorit dalam dan luar negeri, dan sarat tawaran beasiswa, membuat dia kembali ke kelas akselerasi.

     Ketika pemerintah merestui Program Kelas Khusus Akselerasi, yang selalu dikemukakan adalah pemenuhan hak asasi peserta didik sesuai dengan kebutuhan pendidikan bagi dirinya sendiri. Landasan filosofis lainnya, dalam pembangunan nasional, manusia merupakan sentral atau subyek pembangunan. Karena itu, manusia Indonesia harus dikembangkan menjadi manusia utuh secara wajar sebagaimana mestinya.

     Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Kelas khusus akselerasi, meskipun memacu perkembangan kognitif, belum tentu menjadikan peserta didik sebagai manusia yang utuh.

     Pengamat pendidikan sekaligus anggota dewan penasihat Centre for the Betterment of Education, Darmaningtyas, tidak sepenuhnya setuju dengan kelas khusus akselerasi. Baginya, kelas tersebut hanya mempercepat perkembangan kognitif peserta didik, tetapi tidak mempercepat sisi afektif dan psikomotorik.

     "Pendidikan tidak dapat dimaknai sekadar penguasaan ilmu pengetahuan. Proses membangun relasi dengan sesama, misalnya, merupakan hal lain yang mendasar," katanya.

     Kecenderungan memperbanyak kelas khusus akselerasi tersebut ibarat mesin yang terpengaruh budaya instan. Semua ingin serba cepat selesai dan tidak memedulikan proses. Padahal, pendidikan itu proses, sedangkan akselerasi lebih mengacu kepada produk.

     Kelas yang dikhususkan akselerasi juga mempertajam kesenjangan sosial. Ketika anak-anak berbakat itu difasilitasi dan tumbuh dalam kelas tersendiri, mereka terbiasa menjalin hubungan dalam lingkungan kelas homogen. Padahal, tidak demikian kenyataannya di masyarakat. Peserta didik bisa jadi egois dan elitis.

     "Kesempatan naik satu jenjang lebih cepat, lebih baik bagi peserta didik yang memiliki kecepatan belajar luar biasa karena lingkungan mereka tetap heterogen," katanya.

     LAIN lagi pendapat psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Lucia RM Royanto. Kesediaan mengikuti kelas khusus akselerasi harus disertai minat dan kesadaran akan segala konsekuensinya.

     Sisi sosial emosional anak, seperti kematangan pribadi, antara lain ditentukan oleh usia dan lingkungan pergaulan. Setiap durasi jenjang pendidikan tidak terlepas dari perkembangan mental sesuai dengan usianya.

     Masa SD, umpamanya, merupakan school age, yakni masa bermain dan belajar dasar. Di SLTP terjadi peralihan masuk ke masa remaja. Sementara di SLTA anak belajar untuk memasuki dunia orang dewasa.

     Ketika seorang anak sebelum waktunya masuk ke jenjang tersebut, dia masuk ke lingkungan yang belum sesuai dengan tumbuh kembangnya. Karena itu, peserta akselerasi perlu mendapatkan dampingan konseling dan tergabung dalam berbagai kegiatan yang intrapersonal.

     "Sulit diingkari adanya kebutuhan mengoptimalkan potensi anak berbakat. Guru sering mengeluh saat anak berbakat itu sudah menguasai pelajaran dan jadi bosan di kelas sehingga malah mengganggu rekan-rekannya," katanya.

     Namun, kelas akselerasi bukan satu-satunya jawaban. Ada berbagai alternatif mengoptimalkan potensi anak berbakat. Contohnya, program pengayaan materi khusus di luar jam pelajaran sesuai dengan bakat anak. Tidak selalu bidang eksakta, bisa juga kesenian atau ilmu sosial.

     Selain itu, dapat pula dengan program di saat hari libur sekolah, seperti magang atau belajar pada pakar atau ahli di bidang tertentu sesuai dengan minat dan bakat anak. Kegiatan demikian banyak dilakukan di negara maju, seperti Amerika Serikat.

     Program lainnya adalah riset kepustakaan berupa pemberian tugas atau proyek yang menggiring anak menggali dari berbagai pustaka atau internet. Konsekuensinya, fasilitas pendukung harus memadai.

     Apa pun, jangan sampai pelajar brilian menjadi produk instan yang diproduksi massal.


NB: mohon maaf apabila belum bisa menyertakan sumber

2 komentar:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.